Upacara Bela Negara Sekaligus Apel Kesiapan Penanggulangan Bencana

0
121

 

Pesawran, fajar-news.com– Pemerintah Kabupaten Pesawaran upacara hari bela negara ke-70 dan apel kesiapan penanggulangan bencana kabupaten setempat tahun 2018 di lapangan Pemda, Senin (17/12).

“Pada hari kita peringati hari bela negara yang dilaksanakan di seluruh pelosok tanah air. Kesadaran bela negara menjadi hal urgen untuk ditanamkan sebagai landasan sikap mental dan perilaku warga negara. Hal ini merupakan bentuk revolusi mental sekaligus untuk membangun daya tangkal dalam menghadapi kompleksitas dinamika ancaman sekaligus untuk mewujudkan ketahanan nasional,” ujar Bupati Pesawaran H. Dendi Ramadhona.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kesadaran bersama bahwa kelangsungan hidup kita sebagai bangsa adalah totalitas dari seluruh kekuatan rakyat. Dengan kekuatan rakyat maka bangsa ini akan mampu menghadapi segala ancaman dan tantangan.

“Itulah esensi dari sistem pertahanan rakyat yang terbukti dalam sejarah bisa membuat Negara ini berdiri tegak,” ajaknya.

“Apel Siaga ini merupakan suatu moment penting yang harus kita laksanakan dalam rangka upaya pencegahan dan kesiapsiagaan kita semua untuk menghadapi bencana. Hal ini mengingat bahwa Wilayah kita yaitu Wilayah Kabupaten Pesawaran yang kita cintai ini merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi bencana yang cukup tinggi, dimana secara geografis Wilayah Kabupaten Pesawaran terdiri dari daerah Pesisir pulau dan pantai, Daerah Pegunungan, Daerah Hutan dan daerah yang memiliki aliran sungai yang cukup banyak, yang kesemuanya ini dapat menjadi potensi ancaman terjadinya bencana di Kabupaten Pesawaran,” terang Dendi, saat membacakan sambutan.

Dendi menerangkan, dengan melihat potensi ancaman, kerentanan dan keterpaparan masyarakat terhadap bencana, maka apel siaga Bencana ini diperlukan untuk melihat kesiapannya dalam rangka mengantisipasi bencana baik secara personil maupun ketersediaan sarana dan prasarana penanggulangan bencana yang ada.

“Hal ini mengingat tanggungjawab penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan hanya terletak pada pemerintah tapi juga merupakan tanggungjawab masyarakat dan semua sektor kehidupan termasuk dunia usaha,” terangnya.

Lebih lanjut, sejak disyahkannya Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana pada tanggal 26 April 2007, maka terjadi perubahan paradigma penanggulangan bencana dari perspektif responsif ke preventif. Paradigma ini harus menjadi cara pikir dan cara tindakannya, semua sehingga dapat menjadikannya sebagai budaya.

“Badan Penaggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pesawaran mencacat kejadian bencana selama 3 (tiga) tahun terakhir yaitu Tahun 2015 sebanyak 28 Kejadian, Tahun 2016 sebanyak 41 Kejadian dan Tahun 2017 sebanyak 68 Kejadian. Ini menunjukkan bahwa frekuensi bencana di Kabupaten Pesawaran selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup signifikan yang mungkin salah satunya disebabkan adanya perubahan iklim yang cukup ekstrem,” ujar Dendi.

Terakhir saya mengingatkan kepada semua satuan kerja dan steakholder terkait penanggulangan bencana di Kabupaten Pesawaran, untuk terus meningkatkan kemampuan dalam upaya penanggulangan bencana baik secara personal maupun secara organisasi serta mengintensifkan komunikasi dan koordinasi, sehingga penyelenggaraan penanggulangan bencana di Kabupaten Pesawaran dapat berjalan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh.

Hadir dalam upacara tersebut, Jajaran Forkopimda Provinsi Lampung, Wakil Bupati Pesawaran, Jajaran Forkopimda Kabupaten Pesawaran, Kepala Basarnas Provinsi Lampung Kepala BPBD Provinsi Lampung, Sekretaris Daerah Kabupaten Pesawaran, Para Pejabat Struktural di Lingkungan Pemkab Pesawaran, Pimpinan Ormas Tagana, Forum Bela Negara dan Walhi.

Penualis : Rully/ Humas